Saturday, 10 April 2010

Pertanyaan Yang Tak Jelas

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Agar saya tidak usah berlama-lama lagi menuju inti pokok tulisan saya yang tak jelas pada kesempatan kali ini. Langsung saja saya pancing beberapa uraian kata agar langsung menuju intinya. "Lawannya mati?"
"Ya, hidup."(sudah langsung pada intinya)

Bicara tentang "hidup", biasanya ada pertanyaan tak jelas yang serupa tapi sama, dan terkadang tidak jarang dan tidak sering pula mendengarkan pertanyaan tersebut, begini pertanyaannya kurang lebih, "Untuk apa sih kita hidup?" atau "Apa sih tujuan kita hidup?" dan yang hanya lakukan paling-paling hanya diam dan tak akan berniat menjawabnya. Karena pertanyaan tersebut sering saya dengar di film-film yang saya tonton, jadi buat apa saya menjawabnya, bisa dibilang gila juga walau saya sendiri juga tak bisa dibilang gila ataupun waras, maka lebih baik kalau "tidak jelas".
Baiklah, kembali kepada topik sebenarnya. Kalau di realitanya, pertanyaan seperti itu biasanya dilontarkan oleh bermacam-macam orang, latar belakang, agama, jenis kelamin, golongan darah, nomor baju & celana, dan sebagainya. Misal seorang "pencari tuhan" yang masih ragu atas kepercayaan yang dianutnya, karena mungkin semenjak lahir dia mempunyai keyakinan tersebut mengikuti orang tua mereka, keluarga mereka, jadi tak ada pilihan lain selain mengikutinya. Dan biasanya sifat karakter "pencari tuhan" itu muncul saat jiwa-jiwa tak jelas mulai muncul atau biasanya dikenal orang dengan singkatan "A.B.G.", Anak Baru Ga jelas. Ya seperti itulah masa-masa A.B.G. yang tak jelas, penuh kebimbangan, keragu-raguan, dan penuh rasa keingin tahuan.
Mengapa saya menyebutkan bahwa karakter tersebut muncul pada saat-saat itu? Karena pada masa-masa seperti itulah pengaruh bisa datang dari mana saja, dan biasanya masa-masa saat itulah patokan awal seseorang akan seperti apa kedepannya nanti. Pengaruh bisa datang dari teman dekat ataupun teman tidak dekat, guru ataupun bukan guru, kakak kelas ataupun bukan kakak kelas, dan masih banyak lagi. Dan pengaruh tersebut datangnya tidak hanya kebetulan saja, dengan secara tidak jelas masuk ke kehidupan seseorang yang baru menginjak usia tak jelasnya itu, tidak.. Pengaruh itu bisa datang dengan sangat terencana dan tersusun rapi untuk mengobrak-abrik pemikiran seseorang yang pikirannya masih labil dan belum jelas itu. Maka, saat pikiran seseorang telah tercampur dengan hal-hal tersebut, timbulah keragu-raguan dalam hatinya, bersamaan muncul dengan rasa keingintahuannya dengan mencari cari informasi dimana saja sampai dia menemukan jawaban yang dicarinya. Dan akhirnya, lahirlah seorang "pencari tuhan" baru di dunia ini...
Jadi, siapa yang harus di salahkan? Tentu saja orang tua, karena orang tua lah yang seharusnya mendidiknya, mengajarkannya yang baik-baik, dan mengajarkannya untuk tidak mudah dipengaruhi orang lain.
Dan saya akui, pikiran dapat menjadi lebih lemah dari fisik kita apabila pikiran kita tidak pernah dididik dengan baik, diajarkan dengan baik, agar pikiran tersebut tidak mudah dirasuki pikiran lain.

Tapi walau sebutannya "pencari tuhan", dapat juga disebut dengan sebutan "pencari Tuhan", dan orang tersebut dipengaruhi oleh pengaruh yang tidak datang dari luar masuk ke dalam pikiran dia. Tapi justru orang tersebut yang ingin mencari tahu, masih penasaran, dan ingin mendapat jawaban yang jelas, yang bersumber dan dipengaruhi oleh dirinya sendiri. Bukan dari orang lain.
Walau sifat dari kedua karakter di atas sangat mirip, dan melontarkan pertanyaan yang serupa, tapi di sudut pandang saya, sebagai orang yang beragama yang "jelas" pula, efek dari kedua karakter itu sangat terpisah dan berbeda jauh, bagai langit dan kerikil.
Yang satu karena pengaruh orang lain yang mungkin sangat ekstrim, dan juga disertai jiwanya yang masih belum jelas, lengkaplah sudah, dan pasti orang itu akan mudah percaya apabila dari orang tuanya sendiri tidak memberikan bekal yang cukup.
Dan yang kedua karena pengaruh tersebut datang dari dirinya sendiri, maka secara mandiri dan secara naluriah, dia dapat bertindak mencari tahu sesuai dengan kemampuannya sendiri.

Tak hanya karakter-karakter serupa yang saya sebutkan di atas yang bisa melontarkan pertanyaan tak jelas itu.
Seorang manusia biasa, mempunyai keyakinan yang cukup dan tak mudah dipengaruhi orang lain juga bisa melontarkan pertanyaan seperti itu. Biasanya hal tersebut dikarenakan keputus asaan, ketidak mampuan seseorang dalam melakukan sesuatu, yang kemudian orang tersebut malah menyalahkannya kepada Yang Lain, menyalahkan-Nya karena cobaan yang tidak bisa dilaluinya. Dan akhirnya timbulah suatu pertanyaan tak jelas tersebut.
Manusia akan sangat puas jika yang dipikirannya hanyalah selalu berpikiran akan dengan mudah melalui ini, itu. Dan tidak akan sangat kecewa apabila ini, itu tersebut sangatlah susah untuk dilalu, terlebih apabila tidak bisa melalunya sama sekali. Kekurang puasan akan menimbulkan kekecewaan, kekecewaan akan menimbulkan keputus asaan, keputus asaan akan menimbulkan keragu-raguan, keragu-raguan akan menimbulkan kekurang percayaan, kekurang percayaan itulah yang berhasil melontarkan kalimat pertanyaan yang saaaangat sangat tak jelas bentuk dan rupanya.
Ya memang seperti itulah sifat dasar manusia, dari semenjak manusia dilahirkan sampai mau dijemput ajalnya, seperti itu sifat dasar manusia yang sangat sangat tidak jelas. Tidak bisa dipungkiri lagi. Tinggal bagaimana kita mengendalikannya, minimal membatasi agar sifat dasar tersebut tidak muncul sama sekali. Dan itu juga merupakan cobaan untuk kita sebagai manusia yang dikaruniai pemikiran-pemikiran yang dapat menjadi bermacam-macam. Pemikiran sangat lah sensitif.
Perang pemikiran lebih dahsyat dari pada perang fisik. Perang pemikiran tak hanya dari luar, tapi juga bisa dari diri kita sendiri. Maka apabila kalah dalam bertempur, sifat-sifat dasar tersebut mungkin akan muncul dan sungguh merugikan kita. Karena pada dasarnya manusia benar-benar sangat merugi.

Kenapa saya share tulisan seperti ini? Karena beberapa saat yang lalu sempat terlintas di benak saya seperti itu. Alhamdulliah masih bisa menang :)

Dan kenapa harus 7 dari 8 wanita Indonesia???

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Wednesday, 7 April 2010

Virus Flu Burung Yang Sungguh Tak Jelas

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Lagi jalan-jalan di forum terbesar se-Indonesia Raya, saya dikagetkan oleh thread yang tentunya menurut saya "jelas" dan menarik sekali untuk disimak, karena tema dan isinya yang mengandung teori konspirasi. Dan kali ini sumber ataupun narasumber bukan dari website luar negeri atau sumber-sumber luar negeri lain (misal : youtube, wikipedia, atau buku-buku teori konspirasi buatan orang barat -bukan orang sunda maksudnya-), sumber dari buku yang penulisnya merupakan narasumber itu sendiri Menteri Kesehatan kita, Siti Fadilah Supari.



Setelah sekian lama saya selidik, selidik, dan selidik dari ketertidak jelasan dan keragu-raguan saya tentang adanya konspirasi pemusnahan massal populasi manusia di dunia ini, akhirnya saya sedikit merasa "jelas" setelah melihat berita di thread tersebut. Ya mungkin karena sumbernya yang sangat jelas dan terjamin kebenarannya. Walau sebenarnya menurut teori saya yang tak jelas ini bahwa senjata-senjata untuk pemusnahan massal ini lumayan banyak juga, dari mulai penyakit, makanan, entertainment, obat-obatan, dan sebagainya. Tapi pada kesempatan kali ini yang akan dibahas adalah mengenai wabah flu burung, atau Avian Influenza, atau H5N1 yang sampai sekarang mungkin masih mewabah di Indonesia dan negara-negara lain.

Berikut beritanya, silakan disimak :

Flu Burung Ternyata Rekayasa Senjata Biologi AS & WHO

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).
Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia .
Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the World to Change.


Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.
"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta , Kamis (21/2).
Situs berita Australia , The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.
Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.
"Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.
Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.
"Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar," katanya.
Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.
"Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.
Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyonoyang memintanya menarik buku dari peredaran.
"Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia , sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran.
Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.
Mengubah Kebijakan
Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.
Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.
Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005.
Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
"Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi encaman virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis The Economist.
The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.
Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.
Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.
Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?
Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam . Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.
Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.
Mereka mengambilnya dari Vietnam , negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi. Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.
Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.
Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.
Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico , AS.
Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.
Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.


Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima . Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?
Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.
Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos , memujinya.
Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.
Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil,
transparan, dan setara.
Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.
Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.


Sumber : “SAATNYA DUNIA BERUBAH: TANGAN TUHAN DIBALIK FLU BURUNG"
 http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3730335

Sungguh mengejutkan bukan? "Bukaaaannn...."
Bukan salah lagi memang, dan akhirnya keragu-raguan saya yang tak jelas ini pun terjawab setelah melihat, membaca, menyimak, menelaah, dan meresapi tulisan di atas.
Sebenarnya masih banyak artikel-artikel yang membahas tentang teori konspirasi AS dan sekutu-sekutunya, tapi karena sumber masih diragukan dan belum jelas, walau 75,8765196% saya sendiri sudah percaya dengan teori konspirasi tersebut. Tapi Insya Allah di lain kesempatan, jika menurut saya sumber tersebut tidak diragukan dan terjamin akan saya share di blog yang sungguh tak jelas ini.

Dan semoga tulisan di atas tidak bermanfaat sama sekali, maaf... terlalu banyak berbicara yang tidak jelas, jadi keceplosan. Maksud saya, semoga tulisan di atas bermanfaat bagi pembaca, nusa, dan bangsa. Dan mohon maaf dari penulis yang tak jelas keberadaannya ini karena kekurangannya dalam menyampaikan bahasa yang kurang akurat, tajam, dan terpercaya, juga dalam penyampaian kata pengantar dan penutup di tiap tulisan-tulisannya yang sungguh tak jelas. Harap maklum.

Dan apakah ada pertanyaan lagi, kenapa harus 8 wanita di Indonesia?

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Kebajikan Yang Dapat Menjadi Sangat Tak Jelas

Kembali di tengah malam yang sunyi dan sepi ini - bagaikan seseorang yang mencoba melawak atau melucu kepada teman-temannya tapi lawakannya tak lucu sama sekali sampai-sampai ada suara "krik.. krik.. krik.." - saya menulis beberapa tulisan tak penting dari saya sendiri. Niat yang sangat baik dari saya yang mau belajar tadi jadi tertunda gara-gara file .pdf yang buat belajar itu ternyata saya tadi belum sempat mencopy, dan saya harus menunggu teman saya bangun baru saya bisa melanjutkan belajar saya.
"Sungguh terlalu..."

Kemudian mungkin kalian bertanya, "Lalu apa yang akan Anda lakukan untuk mengisi kekosongan waktu ini?" Walau pada realitanya kemungkinan tersebut hanya 0%. Dan mungkin saya akan menjawab, "Wallahu'alam. Hanya Dia-lah yang tahu. Saya sendiri saja masih bingung mau melakukan apa."

"Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (Q.S. Al Ashr : 1 - 3)

Begitulah firman-Nya dalam surat Al Ashr yang menyebutkan bahwa manusia memang benar-benar dalam keadaan yang sangat rugi jika tak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Contohnya ya seperti saya yang sungguh amat tak jelas ini, benar-benar orang yang rugi karena tak bisa memanfaatkan waktu yang ada ini untuk mengerjakan kebajikan seperti yang disebutkan di ayat tadi. Tapi ya apa boleh buat kan. Niat awal saya tadi adalah mengerjakan kebajikan (belajar), tapi berhubung ternyata Tuhan berkehendak lain, maka apa yang harus saya lakukan?
Apa saya harus menggedor-gedor pintu kamar teman saya menyuruhnya untuk bangun, kemudian saya mengerjakan kebajikan?
Jika tak bangung-bangun juga apa saya harus mendobrak paksa agar terbuka kamarnya?
Atau mengutak-atik kunci untuk membuka kamarnya, dan setelah selesai baru mengerjakan kebajikan?
Sungguh orang yang tak jelas yang mau repot-repot memikirkan pemikiran yang tak jelas ini. Dan lalu ada pertanyaan, "Terus siapa yang memikirkan pemikiran tak jelas itu sebenarnya?"
Dan mungkin saya akan diam seribu empat ratus tujuh puluh sembilan bahasa. ".........."

Jadi yang mau saya katakan dari tadi adalah bahwa tidak semua amalan kebajikan yang kita lakukan bisa disebut "kebajikan" kalau sebelum atau "tepat" sebelum melakukan amalan kebajikan itu (yang pada dasarnya "mungkin" belum bisa disebut "kebajikan") kita menyalah gunakan keadaan atau situasi dan waktu yang ada untuk merugikan orang lain atau diri sendiri dengan niatan untuk melakukan amalan kebajikan. Dan menurut saya sendiri, itu tidak bisa disebut amalan kebajikan. Tak tahu juga apa pemikiran orang lain, apakah itu amalan kebajikan atau tidak.
Mungkin ada yang menyebutkan itu merupakan amal kebajikan dengan alasan "Segala amalan tergantung niatnya dong. Kan niatnya juga untuk melakukan amal kebajikan? Ya anggap saja perbuatan sebelum melakukan amal kebajikan itu diampuni oleh Tuhan setelah melakukan amal kebajikan itu."
Oke, itu pemikiran orang lain, "saya terima dengan senang hati" (dan lagi saya menyebutkan kutipan tak jelas dari dosen saya yang mungkin menurut saya kurang jelas). Dan yang akan saya katakan adalah, "Bisa-bisanya Anda dengan penuh percaya diri bahwa "perbuatan-sebelum-melakukan-amal-kebajikan" tadi akan diampuni oleh-Nya?"
Kita tak akan pernah tahu kan, perbuatan buruk kita yang mana yang telah diampuni oleh-Nya, yang belum diampuni oleh-Nya, dan mungkin yang tak akan pernah diampuni oleh-Nya (Naudzubillah....)? Memang kalau menurut saya ada "kemungkinan" perbuatan tersebut akan diampuni, jika memang perbuatan tersebut terpaksa kita lakukan karena tak ada jalan lain lagi, dan yang pasti kemungkinan tersebut tidak banyak juga ya presentasenya. Jadi jangan dengan sangat tak jelasnya langsung percaya diri bahwa perbuatan tersebut akan diampuni. Kita tak akan bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada diri kita nanti.

Kita telusuri saja cerita permisalan yang di atas, saat saya harus merugikan orang lain untuk melakukan amal kebajikan. Saat saya membangunkan paksa atau mungkin menghancurkan pintu kamarnya hanya untuk seonggok file yang mungkin masih bisa diambil saat teman saya itu sudah bangun, apa yang mungkin ada di pikiran teman saya itu jika menyaksikan saya melakukan perbuatan tidak keren dan tidak jelas itu? Mungkin sebagian dari kalian (sekali lagi dalam kemungkinan 0%) akan menjawab kalau teman saya pasti marah, jengkel, sebel, bangka, mangkel, sengit, eneg, jeleh, dan berbagai macam ekspresi tak jelas lainnya. Dan kemudian apakah di dalam hatinya akan ada keikhlasan karena sudah dibangunkan secara paksa sampai-sampai harus meluluh lantahkan pintu kamarnya itu? Akan ada yang menjawab ikhlas dengan alasan, "Wah nggak apa-apa lah, ambil hikmahnya saja, saya jadi bisa sholat malam, jarang-jarang kan saya dibangungkan dengan cara seperti itu, saya manfaatkan saja. Toh dia dari tadi sore lagi nggak waras juga. Saya maklumin lah." Dan yang berpendapat seperti itulah orang-orang yang sungguh berhati mulia dan sepertinya orang yang berpendapat seperti itu jika dimasukkan ke dalam keadaan seperti cerita fiktif di atas tak akan mungkin berpikiran seperti itu. Karena sesungguhnya orang-orang lebih mudah berbicara daripada berbuat. Itulah kenyataanya kita sebagai manusia.
Dan kemungkinan yang sangat jelas dan pasti adalah teman saya tak akan ikhlas di dalam hatinya, mungkin sampai berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau berabad-abad. Dan setahu saya apabila ada orang yang merasa tak ikhlas kepada seseorang dengan alasan yang jelas, maka orang yang tak diikhlasi tadi hidupnya tak akan tenang baik di dunia dan di akhirat (jika orang itu punya pemikiran waras), lagian mana ada orang tak waras yang dibenci, dijengkelin, dimarahin?
Jangan sampai ada kejadian begini, "Hai kamu orang gila! Berengs*K kamu! Anji*g kamu! Berani-beraninya kamu merebut Luna Maya dariku!" Nggak mungkin juga kan? Sungguh dunia yang tak jelas apabila sampai kejadian. ~~

Kembali ke cerita di atas, maka apa yang harus saya lakukan jika tak mengerjakan amalan kebajikan tersebut demi tidak merugikan orang lain? Ya lakukan lah yang menurutmu baik. Seperti contoh saya yang tak jelas ini, menulis tulisan tak jelas panjang lebar tinggi. Tapi tak apa kan? Toh saya tak merugikan orang lain? Apakah ada yang tersinggung? Toh ini blog jarang ada yang baca pula, lagian saya tak menyinggung orang lain sama sekali kan? Semua cerita fiktif tak jelas, tokoh-tokoh tak fiktif pun tak jelas pula, jadi kalau ada yang masih tersinggung, sungguh orang itu tak jelas.

Jadi secara nalarisme mungkin 7 dari 8 wanita Indonesia memilih setuju tentang ayat-ayat yang telah disampaikan di atas tadi adalah masuk akal. Dan mungkin kalian berpikir, apa hubungannya dengan survey dari 8 wanita Indonesia? Sepertinya tak asing...
Dan jangkrik pun berderik, "Krik.. krik.. krik.."

"Jadi apa hubungannya dengan 8 wanita Indonesia??"
Benar-benar tak jelas... ~~

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Tuesday, 6 April 2010

Yang Tak Jelas (sampai-sampai saya lupa menulis judulnya tadi)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Melihat teman saya yang begitu semangat menulis sampai-sampai dia sendiri mungkin nggak sadar seberapa "gondrong" tulisannya, akhirnya saya jadi termotivasi lagi untuk menulis tulisan-tulisan yang tak jelas di blog ini. Dan sungguh saya akui, tulisan saya sangatlah tak jelas. Believe it or not.

Jadi saya mulai saja tulisan saya pada kesempatan kali ini.

Pada tulisan saya yang sebelumnya, mungkin belum ada yang membaca sama sekali, saya akui itu. Mungkin karena keterbatasan saya dalam mempublikasi blog ini, sehingga belum ada pengunjung lagi selain saya sebagai pembuat blog tak jelas ini dan Dia sebagai pencipta si pembuat blog yang sungguh-sungguh sangat amat tak jelas ini. (Maafkan anakmu ibu, ayah, karena tak pernah jelas dalam melakukan sesuatu yang juga sudah tak jelas mau diapakan sesuatu tersebut).
Tapi sungguh saya tak bersedih ria dalam kegalauan dalam hati yang beberapa jam lagi akan UTS (Ujian Tidak jelaS), gara-gara counter pengunjung di blog saya pada kali ini menunjukkan angka "009" atau bisa diterjemahkan dalam angka "9" yang artinya adalah pengunjung blog tak jelas ini sejak dibuat tempo hari baru 9, dan 9 pengunjung itu tidak lain, tidak bukan, dan tidak salah lagi adalah sang pembuat blog yang benar-benar tak jelas ini. Sungguh mengharukan..

Ngomong-ngomong tentang angka 9, yang mana apabila 9 dikurangi 1 (karena 1 adalah angka pertama, tepatnya angka pertama sebelum 0, danangka kedua sebelum 2) hasilnya akan menjadi 8. Saya jadi mengingat sesuatu yang sangat horror dan mengerikan, bahwa pada "jam 8" nanti, yang artinya adalah tidak lama lagi, UTS (sekali lagi, Ujian Tak jelaS) akan diadakan, dan bagian horrornya adalah saya sama sekali lupa apa yang saya pelajari semalam karena terlalu banyaknya noise di pemikiran saya, sehingga menyebabkan packet data yang saya transfer dari slide pembelajaran ke otak saya mendapat loss data lebih dari 50%, yang mana pada aturan sebenarnya adalah data tersebut sensitif terhadap Bit Error Rate sebesar < 1%, tetapi kenapa loss data yang saya alami sekitar 50%?? Sungguh kacau dan tidak jelas saya ini. (Sekali lagi maafkan anakmu yang kacau ini bu, pak)

Dan akhirya saya melanjutkan menulis tulisan ini lagi, bukannya menunda tulisan saya untuk belajar lagi, sungguh tak jelas saya pada hari ini dan hari-hari sebelumnya, dan mungkin pada hari esok. Mungkin jika orang tua saya saat ini sedang ada di sini, di samping atau di belakan atau di depan saya, (dan yang pasti tidak mungkin di atas atau di bawah saya), mungkin mereka akan mengatakan seperti ini, "Mau jadi apa kamu nak nanti kalau sudah mau ujian masih santai-santai gini?"
Dan mungkin akan saya jawab, "Ibuku yang tercinta dan ayah saya yang terkasih, anakmu yang tak jelas ini tadi malam sudah belajar bu.... pak.... Nggak lihat sih tadi malam anakmu ini melototin slide yang ga jelas apa isinya."
Dan mungkin mereka akan bertanya lagi, "Oh, baiklah. Kalau begitu saya tes, Suatu modem beroperasi pada kanal suara standar analog dengan laju 14 kbps. Bagaimana cara melakukannya pada kanal dengan lebar pita 3100 Hz?"
Jeng jeng......!!! Dan saya mungkin akan menjawab, "Modem? Kanal? Pita?"
Dan tak lama kemudian "mungkin" akan terdengar suara yang mengejutkan dunia persilatan, "Waddeezziigggg..."

Dan akhirnya pula, saat ini, sekarang ini, dan pada waktu kali ini, terdengar suara panggilan yang merayu-rayu saya untuk segera masuk ke dalam double-you-see (W.C.) untuk segera membuang sesuatu yang juga tak jelas, dari segi bentuk dan aroma.
Dan akhirnya saya akan klik "publish post", dan segera melejit ke tempat itu sambil tetap "fokus".

Hhhuuhhh... (Suatu keluhan yang tak jelas)

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.